img_head
BERITA

Kunjungan Ketua Mahkamah Agung RI dan Rombongan ke Pengadilan Negeri Palu

Nov29

Konten : berita humas
Telah dibaca : 30 Kali


Kota Palu adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah berbatasan dengan Kabupaten Donggala di sebelah barat dan Utara, Kabupaten Sigi di sebelah selatan, dan Kabupaten Parigi Moutong di sebelah timur,  yang memiliki kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Pantai Talise terkenal dengan pantai yang memiliki pasir putih dengan ombaknya yang tenang dan memukau. Memiliki keindahan sunset, Pantai Talise juga memiliki perbukitan yang mempesona dan dengan keindahan panoramanya. Pemandangan yg tetap menakjubkan lagi dan lagi seperti tidak pernah bosan menatap keindahannya,  awan yang paling indah, dengan langit yang membiru. Memandang keindahan teluk dari Pantai Talise di sore hari menjadi lokasi yang tepat untuk menghabiskan waktu petang bersama keluarga tercinta;

            Kini hampir 3 bulan berlalu peristiwa gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang  diikuti dengan tsunami dan liquifaksi terjadi di Kota palu, Pusat gempa bumi (episentrum) berada di darat, sekitar Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Guncangan gempa bumi ini dirasakan cukup kuat di sebagian besar provinsi Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat. Secara umum gempa dirasakan berintensitas kuat selama 2-10 detik. Dengan memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman hiposenttrum gempa bumi, tampak bahwa gempa bumi dangkal ini terjadi akibat aktivitas di zona sesar Palu Koro. Sesar ini merupakan sesar yang teraktif di Sulawesi;

            Akibat guncangan gempa bumi, beberapa saat kemudian  setelah puncak gempa terjadi pada bagian sisi pantai terjadi tsunami,  di Teluk Palu yang jaraknya lebih dekat dengan pusat gempa diperkirakan terlebih dahulu mengalami tsunami setinggi 1,5 meter sampai 3 meter. Pada perkiraan pukul 18.37 WITA, pihak BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami akibat gempa,  tercatat 11,3 meter, terjadi di Kelurahan Tondo, Palu Timur, Kota Palu. Sedangkan titik terendah tsunami tercatat 2,2 meter, terjadi di Desa Mapaga, Kabupaten Donggala. Baik di titik tertinggi maupun titik terendah, tsunami menerjang pantai, menghantam permukiman, hingga gedung-gedung dan fasilitas umum. Akibat gempa dan sunami di Kota palu sendiri,  mengakibatkan Kondisi Jembatan Ponulele di Kota Palu sebagai icon Kota Palu hancur. Jembatan Kuning Ponulele yang berada di Talise ini adalah Jembatan  yang menjadi salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi wisatawan yang datang ke Palu. Jembatan Kuning yang  juga merupakan jembatan lengkung pertama yang ada di Indonesia. Pasca gempa tsunami menerjang pantai dan meluluh lantakkan bangunan pertokoan dan publik space yang ada disepanjang pantai Talise dan beberapa  Permukiman di sekitar pantai  hancur dan terbawa tsunami. Banyak sekali mayat yang tewas bergelimpangan di pantai disekitar anjungan,  pada hari kejadian itu bertepatan dengan penyelenggaraan event tahunan Festival Pesona Palu Nomoni. Festival Pesona Palu Nomoni  (FPPN) 2018 akan dilaksanakan pada tanggal 28 - 30 September 2018 di Palu. Acara ini dipusatkkan di Sepanjang Pesisir Teluk Palu, dimulai dari ujung Hotel Wina Pantai sampai ujung menuju belokan menuju Swiss Bell Hotel. Festival Pesona Palu Nomoni  (FPPN) 2018 tiap tahun diselenggarakan Pemerintah Kota Palu dan didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kementerian Pariwisata dengan tujuan mengungkap kembali kearifan budaya masa lalu yang sudah ratusan tahun tenggelam, kemudian dimunculkan kembali dibalut dengan kemasan atraksi seni pertunjukan yang mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan, maka pada hari itu begitu banyak manusia yang berada dilokasi ini ikut meramaikan festifal dan menyaksikan kegiatan festifal ini. Detik detik sebelum gempa terjadi masih terdengar kumandang azan sholat  Maghrib bersahut sahutan memecah penjuru bumi di kota Palu, hingga kemudian gempa dan tsunami bergemuruh lalu  menerjang  dalam hitungan yang sangat cepat meluluh lantahkan area festifal  dan sepanjang pesisir pantai di Kota Palu, tempat festival porak poranda, manusia berlari berhamburan menyelamatkan diri, anak  anak menjerit terpisah dari ayah ibunya, sementara langit mulai gelap disertai deru angin dan suasana yang sangat mencekam. Setelah gempa dan tsunami beberapa saat kemudian yang tersisa hanya mayat mayat yang bergelimpangan didarat, tersapu ombak ke laut terbawa entah kemana, satu persatu sanak family mencari keluarganya masing masing diantara onggokan mayat dengan penuh harap dan jeritan tangis yang memilukan;

       Sementara pada bahagian lain dikota palu muncul  likuefaksi, dua  tempat  mengalami bencana  liquipaksi adalah Kelurahan Petobo dan Perumnas Balaroa. Pada saat kejadian gempa, terjadi kenaikan dan penurunan muka tanah, sehingga beberapa  bagian tanah amblas hingga 7 meter,  dan beberapa bagian naik diperkirakan  sampai 3 meter. Sedangkan di  Petobo, ratusan rumah tertimbun lumpur hitam dengan tinggi  antara 4-5 Meter, tanah di daerah Kelurahan Petobo  dengan  cepat  berubah menjadi  lumpur yang dengan hebatnya  menyeret bangunan-bangunan yang berada di atasnya sementara di Balaroa, rumah amblas, bagai terhisap ke tanah,  terlihat jalan aspal terbuka menganga, tanah retak, bergelombang, aspal terperosok hingga kedalaman lebih dari 3 meter, lahan juga terlihat bergelombang. Dua tempat ini akhirnya hanya  menyisakan  korban jiwa dan harta benda, mayat terkubur hidup hidup bahkan sejauh mata memandang yang terlihat  hamparan sangat amat  luas dengan sisa sisa puing bangunan yang tinggal atap berserakan  bahkan rata dengan tanah, di perbatasan Kabupaten Sigi dengan Kota Palu Lumpur juga muncul dari bawah permukaan tanah dan menggeser tanah hingga puluhan meter dan akhirnya menenggelamkan bangunan dan korban hidup-hidup.  likuefaksi yang terjadi di Perumnas Balaroa menenggelamkan kurang lebih  sekitar 1.747 unit rumah,  sementara di Kelurahan Petobo sekitar 744 unit rumah tenggelam dan menelan banyak korban jiwa. Diketahui kemudian  bahwa Balaroa ini terletak di tengah-tengah sesar Palu-Koro, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo dalam konferensi pers BNPB, pada hari Sabtu tanggal 29 september 2018 menerangkan bahwa Sesar Palu Koro adalah patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua, dimulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga ke Teluk Bone. Sesar ini dikatakan sangat aktif hingga pergerakannya mencapai 35 sampai 44 milimeter per tahun. "Kota Palu berkembang di atas sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro merupakan patahan dengan pergerakan terbesar kedua di indonesia, setelah patahan Yapen, Kepulauan Yapen, Papua Barat.

            Akibat gempa ini juga mengakibatkan beberapa sarana prasarana kota  dan publik space di Kota Palu  juga rusak,  karena bangunannya mengalami keretakan dan patahan sehingga tidak layak lagi untuk digunakan. Hotel Roa-Roa yang ada di Jalan Pattimura Palu, juga Rumah Sakit Anuntapura di Jalan Kangkung, yang berlantai 4, juga roboh. Mall terbesar di Palu, Mal Tatura, mengalami kerusakan yang sangat parah  dan nyaris rata dengan tanah.  Ada puluhan sampai ratusan orang yang terjebak di dalamnya. Kios-kios di pesisir Teluk Palu atau Pantai Talise tersapu gelombang besar. Masjid Arqam Bab Al Rahman atau Masjid Apung Palu yang berdiri megah penyanggahnya  roboh masuk ke dalam laut namun bangunannya tetap Kokoh berada ditempatnya seakan menyisakan kegetiran di petang kala itu;

       Pasca gempa dengan kekuatan 7,4 skala richter itu, mengakibatkan  kebutuhan  Jaringan air bersih, listrik, dan bahan bakar minyak menjadi  sesuatu hal yang sangat sulit ditemukan. Jaringan komunikasi  Palu menjadi sulit diakses akibat tak berfungsinya ratusan BTS. Malam pasca gempa itu yang terlihat hanya kerlap kerlip bintang dalam kegelapan malam yang terus disapa dengan dentuman dan gemuruh  gempa dari perut bumi yang tak pernah henti,   mata tak kuasa terpejam hingga pagi memburatkan cahaya mentari pagi yang tak seindah biasanya.

       Belum  juga  usai mimpi buruk itu,  aksi penjarahan terjadi,  sekitar  40 gerai Alfamidi dan 1 gerai Hypermart telah jadi sasaran penjarahan di kota palu dan sekitarnya, Namun demikian, sejumlah orang melakukan aksi menjarah isi toko  untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk bertahan hidup ditengah keadaan yang tidak pasti untuk beberapa hari kedepan. Sayangnya  yang dilakukan oleh beberapa orang (oknum) sudah melewati batas kewajaran, mereka tidak lagi menjarah perbekalan makanan tapi menjarah barang barang kebutuhan lux lainnya seperti televisi, ban mobil bahkan mempreteli ban mobil serta asessories kendaraan  yang berada di ruang pameran pusat Mall di kota Palu, tidak luput pula gerai gerai  dan autlet  barang barang yang terbilang hits di Mall habis terjarah Keadaan pada hari itu sangat mencekam, ketakutan yang mendalam, kecemasan melanda, entah dari mana datangnya manusia manusia (oknum)  yang saat itu kehilangan  hati nuraninya ditengah pilu yang menghancurkan jantung Kota Palu. Namun aksi penjarahan di sejumlah toko pascabencana gempa bumi tersebut segera  ditindaklanjuti oleh pihak yang berwajib untuk menindaklanjuti aksi penjarahan tersebut dengan melakukan  penyelidikan atas kasus tersebut dengan mengusut  sejumlah provokator penjarahan pasca gempa.

            Pasca gempa dan tsunami yang melanda wilayah Palu, Donggala dan sekitarnya di Sulawesi Tengah,  evakuasi dan perawatan korban terus  dilakukan oleh Pemerintah, bantuan pun berdatangan dari segala arah, tak terkecuali bantuan datang pula dari Lembaga yang menaungi satuan Kerja Pengadilan Negeri Palu Klas IA Palu. Beberapa hari Pasca gempa Ketua Mahkamah Agung (MA) Yang Mulia Prof. Dr. Hatta Ali, S.H., M.H. didampingi oleh Wakil Ketua MA bidang Yudisial Yang Mulia Dr. Syarifudin, S.H., M.H dan Wakil Ketua MA Bidang Non Yudisial Yang Mulia Dr. Sunarto, S.H., M.H. bersama dengan para datang langsung ke Kota Palu mengunjungi warga pengadilan, dalam kunjunganya tersebut selaku Petinggi Tertinggi Lembaga Mahkamah Agung menyerahkan sejumlah bantuan makanan minuman serta uang yang dibagikan kepada warga pengadilan dibawahnya yakni Peradilan Umum, Peradilan Agama, dan Peradilan TUN serta bantuan dari beberapa jajaran peradilan lainnya di wilayah Sulawesi, selang beberapa waktu kemudian bantuan datang juga dari Relawan IKAHI sebagai organisasi Ikatan Hakim Indonesia juga hadir di kota palu. Sumbangan   MA, IKAHI dan Dharmayukti Karini di antarkan langsung oleh para relawan Hakim Hakim Indonesia berupa  tenda-tenda, mulai dari tenda family, tenda pleton, dan tenda ruang sidang darurat yang telah  didistribusikan kepada jajaran peradilan se-Provinsi Sulteng. Selain itu ada beberapa  huntara/hunian sementara  yang juga dibangun oleh para relawan IKAHI. Perhatian dan support yang diberikan oleh Lembaga  Mahkamah Agung bagi warga pengadilan ini sungguh  luar biasa sangat berarti sekali dirasakan bagi kelangsungan hidup dan bertahan pasca gempa melanda bagi seluruh warga pengadilan pada khususnya dan warga kota Palu pada umumnya.

            Kantor Pengadilan Negeri Palu juga mengalami kerusakan di beberapa bahagian gedung, ada beberapa bahagian dari gedung yang sangat memprihatinkan untuk digunakan, sementara barang barang di beberapa ruangan berjatuhan sehingga harus dilakukan penataan dan penyusunan kembali, namun di balik semua itu hal yang paling menyisakan dari rangkaian peristiwa ini adalah trauma yang masih menggelayut di relung bathin, ada  beberapa dari rekan kerja masih mengalami trauma yang mendalam, ada rasa takut yang cukup kuat menyeruak tatkala harus bekerja di dalam ruangan, sehingga ada beberapa orang yang  melakukan aktifitas kerja di luar ruangan tepatnya dibawah tenda tenda bantuan MA, IKAHI dan Darayukti yang di pasang di halaman kantor Pengadilan Negeri Palu, namun begitu aktivitas kantor tetap berjalan sebagaimana amanat Pimpinan untuk tetap melaksanakan pelayanan yang maksimal kepada para pencari keadilan setelah keadaan Kota palu mulai dirasa  membaik pasca Tanggap darurat yang ditetapkan di kota Palu. Kurang lebih  tiga  minggu pasca gempa, Pengadilan Negeri Palu mulai berbenah, meskipun disana sini masih dihantui kecemasan karena gempa kecil susulan masih sering dirasakan, warga pengadilan yang tertimpa bencana pun tidak sedikit, ada beberapa yang kehilangan rumah harta benda bahkan sanak family, keadaan ini tentu amat sangat menyedihkan, trauma yang ada bukanlah trauma yang mudah untuk disembuhkan, namun Palu harus tetap Bangkit dan Kuat;

        Keadaan kantor Pengadilan Negeri Palu sendiri  sudah mulai bertahap  normal kembali, hanya saja beberapa perkara tunggakan pasca gempa mengalami keterambatan penyelesaian yang berpengaruh pada sistem pelaporan informasi penelusuran perkara yang anjlok dari standar pencapaian pelaporan perkara, selain itu pihak pihak yang berperkara juga masih bermunculan satu persatu, mengingat banyak orang yang dinyatakan hilang bahkan meninggal, demikian pula status objek sengketa pada bahagian yang terkena liquipaksi juga saat ini sementara masih dalam proses untuk memastikan beberapa perkara yang didalilkan pihak berperkara perdata sebagai  objek sengketa. Sementara untuk beberapa perkara pidana, Penuntut Umum tidak lagi bisa menghadirkan Terdakwa ke persidangan, karena pada hari kejadian banyak dari Terdakwa yang ditahan baik di Rutan maupun di Lapas yang sempat melarikan diri, dan belum menyatakan kembali melaporkan diri. Perkara perkara baru Pidana mulai dilimpahkan ke pengadilan Negeri, demikian pula perkara Perdata  baik Gugatan maupun Permohonan juga sudah mulai berproses dan dilaksanakan pada meja Pelayanan Terpadu satu Pintu Pengadilan Negeri Palu.

            Kini, Fenomena baru nampak terlihat disetiap hari Jumat di Kota Palu akan disaksikan Dzikir bersama yang digelar dianjungan Talise, ratusan warga masyarakat Palu memenuhi tempat ini melaksankan Dzikir bersama. Sungguh suatu pemandangan yang mengharu biru, napak tilas kisah tragedi bencana alam gempa bumi tsunami yang disertai liquifaksi di kota Palu tanggal 28 September 2018  ini tentu akan tercatat dalam sejarah dunia, bahkan pada hati yang mengurai tangis dan air mata, namun seperti namanya Palu, adalah simbol kekuatan, semangat untuk kembali bangkit  menata kota,  menata hati, menata iman dan menggalang kekuatan  di hati Masyarakat Palu sigi dan Donggala.



 

 

 


 

 

  • Galeri